PMIIRAYONALHIKAM — Mantan ketua rayon dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Al-Hikam Malang, Dr. Hisbul Luthfi Ashsyarofi, S.H., M.H., resmi meraih gelar doktor ilmu hukum dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya setelah menyelesaikan studi S-3 tepat waktu selama tiga tahun.
Pencapaian akademik ini diraih melalui proses perjuangan panjang yang menuntut komitmen tinggi serta kedisiplinan dalam membagi waktu antara Malang dan Surabaya.
Bang afi menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas keberhasilannya menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertinggi tersebut.
“Tentu pertama senang, semoga menjadi penyemangat untuk kader-kader Al-Hikam yang lainnya,” ujar Bang afi saat diwawancarai pada Selasa (4/8/2026).
Ia berharap pencapaian ini dapat mendorong para kader muda untuk terus mengembangkan keilmuan dan melanjutkan studi ke jenjang akademik yang lebih tinggi.
Secara khusus, Bang afi mendedikasikan keberhasilannya tersebut kepada organisasi yang telah membentuk dinamika berfikirnya.
“Pencapaian ini saya persembahkan untuk PMII, terkhusus Rayon Al-Hikam. Pesan saya, tetap berproses, tekun, rajin, dan disiplin,” tegasnya.
Selama menempuh studi doktor di Universitas Airlangga, ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman berkesan, terutama terkait metodologi dan mazhab pemikiran hukum.
“Yang paling berkesan mungkin karena di Unair mazhab berpikirnya normatif. Itu yang membedakan dengan kampus lainnya,” jelas bang afi.
Meski demikian, perjalanan menempuh gelar doktor tidak lepas dari berbagai kendala dan tantangan dinamis di lapangan.
Ia mengungkapkan bahwa dinamika bertemu promotor dan kesibukan akademis menjadi bagian dari proses yang harus dilalui setiap mahasiswa S-3.
“Kalau soal menantang, hampir semua orang yang menempuh S-3 ada ujian masing-masing, seperti dosen yang sibuk, menunggu dosen seharian, atau sudah janjian tetapi batal,” ungkapnya.
Selain tantangan akademis, jarak geografis antara Malang dan Surabaya juga menjadi ujian fisik maupun finansial selama masa perkuliahan.
“Jarak Malang-Surabaya membutuhkan waktu tempuh yang tidak sedikit. Hal itu menjadi tantangan tersendiri mengingat harus mengorbankan waktu lebih, tenaga, pikiran, dan tentu biaya,” tambah bang afi.
Namun, seluruh hambatan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk menyelesaikan perkuliahan secara efisien.
Berbagai tantangan itu justru ia jadikan sebagai pemicu utama untuk membuktikan komitmen lulus tepat waktu dalam waktu enam semester atau tiga tahun.
Pencapaian ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi akademisi muda dan aktivis mahasiswa untuk terus mengejar pendidikan setinggi-tingginya tanpa mengesampingkan proses berorganisasi.
*) Penulis: M Omrowi,Biro advokasi PMII Rayon Al Hikam











