PMIIRAYONALHIKAM-Buku “Menjadi Kader PMII” yang ditulis oleh Ahmad Hifni dan diterbitkan oleh Moderate Muslim Society (MMS) pada April 2016 merupakan sebuah karya penting yang mendokumentasikan rekam jejak historis, ideologi, serta arah gerak Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, buku ini hadir sebagai oase sekaligus kompas moral dan intelektual bagi para kader, merangkum bagaimana sebuah organisasi kepemudaan mahasiswa Islam mempertahankan eksistensi dan idealismenya.
Secara historis, PMII lahir pada 17 April 1960 di Surabaya sebagai buah dari dinamika pemikiran di lingkungan Departemén Perguruan Tinggi IPNU. Dalam perjalanannya, organisasi ini mengambil langkah-langkah strategis yang matang, seperti Deklarasi Munarjati (1972) yang mendeklarasikan independensi PMII, serta dipertegas melalui Deklarasi Interdependensi PMII-NU (1991) di Pondok Gede. Deklarasi-deklarasi tersebut menjaga hubungan fungsional dan kesamaan visi keagamaan dengan Nahdlatul Ulama tanpa harus terikat secara struktural.
Fondasi pergerakan ini semakin kokoh berkat penempatan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bukan sekadar sebagai doktrin teologis yang kaku, melainkan sebagai metodologi berpikir (manhaj al-fikr). Aswaja diinternalisasi melalui empat prinsip utama: Tawasut (moderat), Tawazun (keseimbangan), Tasamuh (toleran), dan I’tidal (keadilan). Nilai-nilai inilah yang berpadu dengan komitmen kebangsaan tatkala PMII menerima Pancasila sebagai asas organisasi, menempatkan Islam dan keindonesiaan dalam satu titik temu yang saling menyempurnakan tanpa mempertentangkannya. Buku ini juga mengupas bagaimana ketajaman analisis kader diasah dalam merespon berbagai isu strategis—mulai dari merajut kerukunan, melawan radikalisme di kampus, hingga mendorong peran aktif mahasiswa dalam menjawab tantangan zaman.
Pada akhirnya, membaca dan merefleksikan karya ini menegaskan bahwa seorang kader PMII dituntut untuk berdiri di atas dua kaki: intelektualitas tinggi dan integritas moral. Dialektika antara ruang-ruang akademik kampus dan aksi nyata di tengah masyarakat adalah sebuah keniscayaan yang tidak boleh ditinggalkan. Kader PMII harus senantiasa hadir sebagai problem solver yang berakar pada tradisi kepesantrenan, membawa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, serta siap menjawab tantangan peradaban masa depan bangsa.
*) Penulis : M Omrowi,Kader Al Hikam










